Fort Van Den Bosch

Ngawi…

Merupakan kota kecil diperbatasan antara Provinsi Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Karna Kota ini terletak diantara dua kebudayaan besar, Ngawi memiliki kebudayaan yang cukup unik, yang menggabungkan antara budaya Jawa Tengah, Keraton Jawa yaitu Solo atau Surakarta, dengan budaya Surabaya, sebagai pusat pemerintahan Jawa Timur. Namun, nampaknya, budaya Jawa Tengah lebih kuat daripada budaya Jawa Timur. Hal ini nampak pada bahasa Jawa sehari-hari yang digunakan, khususnya oleh orang-orang tua. Dulu, Kota ini terkenal sebagai Kota Pensiunan. Kota ini tenang dan sepi. Banyak anak mudanya yang merantau di daerah lain. Sampai hari ini pun, kota ini tampak tenang dan nyaman. Cocok bagi orang yang tidak suka dengan keramaian.

Di Kota ini, menyimpan sejarah bangsa Indonesia yang mungkin belum banyak diketahui secara luas. Salah satunya adalah Benteng Van Den Bosch. Atau, yang lebih dikenal oleh masyarakat Ngawi sebagai Benteng Pendem.

Image

Benteng ini dinamakan Benteng Pendem karna Benteng ini seolah ditanam dalam tanah. Jika kita tidak mendekati Benteng ini, kita tidak akan tahu jika di situ ada sebuah bangunan keren peninggalan jaman Belanda. Selain itu, benteng ini dikelilingi oleh sungai yang sampai hari ini masih berfungsi.

Dulu, Benteng ini ditutup untuk umum. Banyak alasannya. Ada yang bilang karna ada hantunya. Ada yang bilang karna dipakai untuk menyimpan senjata dari TNI AD. Yang jelas, tempat itu harus ditutup untuk umum karna memang membahayakan pengunjung. Bangunan itu walaupun temboknya tetap kokoh sampai hari ini, tapi kayu-kayu yang dipakai sebagai lantai, terutama di lantai 2, sudah banyak yang lapuk dan rusak. Dan, terakhir ditutup oleh pemerintah kabupaten karna tempat bersejarah itu dipakai sebagai tempat budidaya sarang burung walet. Sebenarnya, sungguh sangat disayangkan cara pemerintah dalam memelihara potensi sejarah bangsa Indonesia.

Sekarang, tempat itu telah dibuka untuk umum. Semua orang boleh masuk. Tetapi, kita hanya bisa melihat puing-puingnya saja. Sebagian besar bangunan masih berubah fungsi. Dan, jangan harap bisa ke lantai 2, ya.

Disekitar Benteng Pendem ini, sebenarnya pernah dibuat Pendapa untuk kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh pemerintah kabupaten. Seperti, wayangan. Pernah juga diadakan Pasar Malam. Juga, dulu sering diadakan balap motor atau yang sering orang Ngawi bilang “Gestrek”. Namun, Pendapa itu sudah rusak. Tanah lapang itupun sudah dimanfaatkan untuk menanam Tebu.

Bagi pecinta burung kicau, dihari-hari tertentu, di sore hari, ada lomba burung kicau. Paling tidak, masih ada suasana alam (walaupun alam yang terkurung) yang bisa kita nikmati.

Setidaknya, lokasi itu bagus untuk pemotretan untuk keperluan wedding, foto bareng teman-teman, outbond, ataupun mengenal sejarah. Tapi, perlu hati-hati. Mungkin saja Anda sedang menginjak kotoran hewan.

Mungkin kita tidak bisa ikut menjaga sejarah yang sudah terlanjur rusak dan tak terpelihara. Tapi paling ga, kita bisa menikmati puing-puingnya, yang katanya segera diperbaiki. Entah kapan terealisasi dan entah seperti apa wajah barunya. Kita nikmati saja. Karna sebenarnya, Benteng Pendem ini TASTE EXPERIENCE.

Image

~ stephen leo ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s